Cerpen "MEMBENDUNG RINDU"
Rahma Yunita
Nawang Sari
MEMBENDUNG RINDU
Hari semakin
malam semakin gelap. Detik jam terus berjalan, hari berganti hari tak kurasa
yang awalnya senja menerangi dengan sekejapnya berubah menjadi malam yang
sunyi. Malam yang sunyi itu hal paling membosankan, sangat menyebalkan setiap malam itu datang
kesepian,kesedihan,amarah,kegelisahan datang perlahan. Pilu rasa hati ini
apabila tiba matahari telah tenggalam perasaan seperti ombak dan angin tanpa
arah yang jelas.
"Tuhan... Mengapaa ini terjadi
kepadaku ? Mengapa aku susah untuk
membuka lembaran hati yang baru dan menutup lembaran hati yang lama. Kenapa
Tuhan?" ujar Aku di dalam hati.
Sekian lama ku
menunggu hingga senja menjadi malam dan hingga hari ke hari. Perasaan akan
sosok berparas tampan itu tidak bisa terlupakan olehku. Ku selalu berusaha
merubah kekagumanku ini kepadamu. Pada suatu hari aku lagi duduk di sebuah cafe
untuk berbincang - bincang dengan teman sejawadku. Dihari itu dan di jam itu
dan di tempat situlah aku dan kamu bertemu kembali,dengan diam-diam ku
memperhatikanmu dari kejahuan,dengan mengaduk-aduk es yang telahku pesan dan
hati ini ingin menyapau tetapi mulut ini susah untuk mengatak hallo dan setelah
sekian lama bentuk tubuhmu sama persis seperti dulu dengan tubuh tinggimu,
Badan kurusmu dan suka memaki kacamata tetap masih sama. tanpa kusadari teman
yang ada di sampingku memperhatikanku yang sedang memandang dia.
“Hei.. kenepa kamu terus melihat
kearah sana?” tanya Sarah sambil memakan kentang yang di pesan.
“Hmm hmm gak apa cuma pingin lihat
aja.” jawab Sari sambil senyum kearah Sarah.
“Emang kamu mengenalnya?” saut
kawanku
Aku terdiam
kembali sambil memandangnya dan menghiraukan pertanyaan dari temanku, Dalam
hati berguma Melihat sosokmu ada yang beda dari dirimu yaitu rambutmu dulunya
kamu memiliki rambut yang pendek rapi dan bersih tapi kenapa sekarang kamu
berbeda dengan rambut gondrongmu dan acak-acakan. Dan temanku menyenggol
lenganku sambil berkata.
“Ngelamun lagi nie anak.., emang
siapa itu samapai matamu gak bisa berkedip.” sambil meneguk jus yang dipesan
oleh Sarah.
“Ohh.. itu temanku… teman yang
pernah special di hati.” sautku sambil senyum
manis.
“Oalah itu to anaknya yang pernah
kamu ceritaiin ke aku?” tanya Sarah dengan mata penuh pertanyaan.
“Iya-iya bawel itu anaknya.” sautku
sambil tersenyum lebar.
Aku
mencoba sekali lagi untuk melihatnya dalam hati berkata
“Kenapa kamu bisa berubah itu yang aku
ucapkan sekarang ke kamu?” dumalku dalam hati.
Tetapi ada sedikit rasa lega di hati untuk
melihat wajah itu kembali, tidak lama kemudian kamu meninggalkan tempat cafe
tampa menatapku kamu hanya jalan fokus ke depan tanpa melihat kanan dan kiri.
Ada rasa sedikit kecawa yang membendung sebab kamu tidak menyadari bahwa aku
ada di tempat yang sama denganmu.
Malam pun
datang kembali. Muncul kembali rasa kesepian itu.
“Rasa kecewa
mengapa aku dan kau mengakhiri hubungan yang kita jalani hubungan yang saling
menyayangi,yang saling memberi perhatian lebih, dan berjanji tidak akan mengecewakan
satu sama lain.” dumalku di malam hari sambil memegang segelas kopi.
“Rindu???”
Memang rindu memang dengan semua kenangan
tersebut, kenangan itu masih melekat di pikiran maupun di hatiku. Kejadian
tersebut tidak akan terlupakan meskipun penampilanmu sudah berubah, dan yang
sekarang aku fikirkan mengapa dan mengapa kamu mengakhiri di saat aku masih
sayang denganmu mengapa. Hanya dipikiranku mengapa, samapai sekarang aku masih
berfikir apa salahku,apa salahku dan apa salahku sampai kau memutuskanku?, Aku
mulai berfikir dan mengoceh seperti orang yang tidak waras.
" Ayo sari,kamu bisa melupakan
dia buat apa kamu memikirkannya buat apa kamu masih merindukannya untuk apa,
sedangkan dia tidak memikirkanmu, ayo sari kamu pasti bisa membuka hati kepada
pria lain" ujar aku.
Kembali beraktifitas
sehari-hari seperti biasa kesana kemari dengan kesibukan dengan kesibukan
itulah yang bisa membuat arti kesepian arti kerinduan tetapi setelah kesibukan
tersebut selesai mulailah perlahan - lahan muncul kembali, di saat jam
istirahat aku dan kawan-kawanku menuju kesebuah warung makan untuk menyantap
makan siang. Pada saat ingin memesan makanan tiba-tiba sosok bayangan dia
muncul tapi ku berfikir itu hanyalah imajinasiku saja.
"Hei sari, kamu mau pesan makan
apa,dari tadi bengong mulu mikirin sapa sih... Dia lagi?" tanya kawanku Rina.
Sautku sambil tersenyum "Enggak
kok cuma mikir kapan gajian cair hehehe"
gurauku.
Tiba-tiba
dia muncul persis di sebelahku.
Aku terkejut "Ran-ran, tolong cubit aku?" suruhku.
"Kamu kenapa to sar?" Jawab
kawanku.
"Udalah cubit aku sekarang
cepet" suruhku.
"Aaaa...aaa sakit.." ucapku.
"Sakitkan.. Jangan salahkan aku
ya kamu tadi yang suruh" ujar kawanku.
"Iya iya bawel" jawabku.
Ternyata bukan
mimpi dia benar-benar ada di sebalahku. Ku memberanikan diri untuk menyapanya
terlebih dahulu meskipun ada rasa sedikit canggung. Mulutku dan hati tidak satu
tujuan di dalam lubuk hati ini paling dalam berkata ya tetapi mulut ini berkata
jangan. Dan pada akhirnya ku biarkan untuk tidak menyapanya. Karena akan ku
biarkan perasaan ini akan ku kenang dan hilang dengan sendirinya secara
perlahan. Pasti ku ingat kalau lah sosok pria yang pernah singgah di hati. Dan
biarkan rindu ini terus berjalan entah kemana arah tujuan nya lama kelaman
perasaan dan rindu akan segera menghilang dan menemukan sosok yang baru.
Komentar
Posting Komentar