Postingan

UAS Kritik dan Esai Kumpulan Cerpen

Gambar
 KRITIK DAN ESAI KUMPULAN CERPEN  KARYA M. SHOIM ANWAR UAS    RAHMA YUNITA NAWANG SARI  175200041/ 2017B UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA JAWABAN Bapak M. Shoim Anwar seorang sastrawan Surabaya yang memiliki segudang karya mulai dari sastra tulis maupun lisan. Beliau lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Yang sangat menyukai dunia sastrawan, sudah banyak sekali karya-karya beliau dibaca oleh masyarakat. Seperti contoh halnya karya cerpen beliau yaitu Sorot Mata Syaila, Sepatu Jinjit Aryanti, Tahi Lalat, Jangan ke Istana Anakku,  serta  Bambi dan Perempuan Berslenda Baby Blue. Pada kesempatan kali ini saya akan mencari kesamaan dan perbadaan dari karya-karya beliau. Serta menyelasaikan tugas Ulangan Akhir Semester (UAS).  Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek. Cerpen merupakan salah satu ragam dari jenis prosa. Cerpen, sesuai dengan namanya adalah cerita yang relatif pendek yang selesai dibaca sekali duduk. Proses sekali dud...

Kritik dan Esai lagu Judika Mama Papa Larang

Gambar
  Lirik lagu Mama Papa Larang  Separuh nafasku Ku hembuskan untuk cintaku Biar rinduku Sampai kepada bidadariku Uu-uu Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang Walau dunia menolak, 'ku tak takut Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu Ohh Karena kamu Bintang di hatiku Takkan ada yang lain Mampu goyahkan rasa cintaku padamu Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang Walau dunia menolak, 'ku tak takut Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu Sudah jangan kau usik lagi Cinta…          Kritik dan esai pada lagu judika dengan judul “Mama Papa Larang” yaitu mengandung perjalanan cinta sesorang yang terhalang oleh restu dari orang tua, karena cintalah seseorang mau berjuang dan bersemangat untuk mendapatkan segala hal sesuatu yang di inginkan, contohnya seperti restu dari orang tua. Dalam menjalani sebuah ...

Kritik dan Esai "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesi karya Taufik Ismail

Gambar
  Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia I Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini II Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Elysees da...

Kritik dan Esai Setan Benteng

 Yogyakarta, 1968 Pada jam istirahat, akan terlihat serombongan anak laki-laki membentuk kerumunan tersendiri. “Siapa yang berani?” pemimpin rombongan itu bertanya. Anak-anak kelas VI sekolah dasar itu hanya saling memandang, bahkan ada yang mundur seperti ada sesuatu yang mengancamnya, tetapi ada yang menjawab tantangan itu. “Aku!” Selalu begitu. Sejak masa kanak-kanak pun sudah terbagi: ada yang pemberani, ada yang selalu ketakutan, ada yang penuh perhitungan dan lihat-lihat dulu. Lantas, dengan kapur putih, salah seorang dari anak-anak itu cukup menggambar di lantai, atau kalau tidak ada kapur bisa menggunakan patahan ranting, menggurat di tanah gambaran seperti ini: “Sudah,” katanya kepada pemimpin rombongan. Pemimpin rombongan itu menoleh ke arah anak pemberani tadi, sambil menunjuk ke arah gambar yang terbentuk di atas tanah berpasir di dekat tembok samping sekolah. “Ayo!” katanya dengan nada perintah. Anak yang badannya paling besar itu pun maju mendekati gambar, menekuk lut...

Kritik dan Esai karya Agus R. Sarjono "Sajak Palsu"

Gambar
 Puisi Agus R. Sarjono           Sajak Palsu Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ...

Kritik dan Esai puisi Wiji Tukul

Gambar
Puisi Wiji Thukul           PERINGATAN Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asa Kalau rakyat bersembunyi Dan berbisik-bisik Ketika membicarakan masalahnya sendiri Penguasa harus waspada dan belajar mendengar Bila rakyat berani mengeluh Itu artinya sudah gasat Dan bila omongan penguasa Tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam Apabila usul ditolak tanpa ditimbang Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: lawan!                   Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu Apa guna punya ilmuko Kalau hanya untuk mengibuli Apa gunanya banyak baca buku Kalau mulut kau bungkam melulu Di mana-mana moncong senjata Berdiri gagah Kongkalikong Dengan kaum cukong Di desa-desa Rakyat dipaksa Menjual tanah Tapi, tapi, tapi, tapi Dengan harga murah Apa guna banyak baca buku Kalau mulut kau bungkam melulu Pada kedua ...

Kritik dan Esai Puisi "Idul Fitri" karya Sutardji Calzoum Bachri

Gambar
 Idul Fitri                       Puisi  Sutadji Calzoum Bachri Lihat Pedang tobat ini menebas-nebas hati dari masa lampau yang lalai dan sia Telah kulaksanakan puasa ramadhanku, telah kutegakkan shalat malam telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang Telah kuhamparkan sajadah Yang tak hanya nuju Ka’bah tapi ikhlas mencapai hati dan darah Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya Maka aku girang-girangkan hatiku Aku bilang: Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang Namun si bandel Tardji ini sekali merindu Takkan pernah melupa Takkan kulupa janji-Nya Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta Maka walau tak jumpa denganNya Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini Semakin mendekatkan aku padaNya Dan semakin dekat semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa O lihat Tuhan, kini si bekas pema...