Kritik dan Esai Puisi "Idul Fitri" karya Sutardji Calzoum Bachri
Idul Fitri
Puisi Sutadji Calzoum Bachri
Lihat
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia
Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
Telah kuhamparkan sajadah
Yang tak hanya nuju Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya
Maka aku girang-girangkan hatiku
Aku bilang:
Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam
Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang
Namun si bandel Tardji ini sekali merindu
Takkan pernah melupa
Takkan kulupa janji-Nya
Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta
Maka walau tak jumpa denganNya
Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
Semakin mendekatkan aku padaNya
Dan semakin dekat
semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa
O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
ngebut
di jalan lurus
Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir
tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu
di ujung sisa usia
O usia lalai yang berkepanjangan
Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus
Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir
tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia
Maka pagi ini
Kukenakan zirah la ilaha illAllah
aku pakai sepatu sirathal mustaqim
aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id
Aku bawa masjid dalam diriku
Kuhamparkan di lapangan
Kutegakkan shalat
Dan kurayakan kelahiran kembali
di sana
Menurut para ahli, Auden (1978: 3) mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur. Puisi merupakan suatu karya yang terbentuk atas susunan kata penuh makna. Kritik dan Esai pada puisi di atas menggambarkan suatu kerinduan dengan punggunaan bahasa yang lugas dan memiliki makna-makna yang dalam pada puisi diatas Untuk pola pemilihan kata pada puisi Idul Fitri ini menggunakan pola kata bersajak yang perlu untuk dipahami makna kalimat pada puisi tersebut.
Gambaran pada puisi Idul Fitri ini menjelaskan bahawa ketakwaannya kepada Tuhan ketika sedang menjalankan sebuah kewajiban ibadah setiap satu tahun sekali. Yang selalu taat menjalankan ajaran dan kewajiban manusia untuk mendapatkan sebuah pahala. Dan berlomba-lomba untuk mendapatkan rahmat dan pahala pada bulan Ramadhan. Yang terdapat pada bait puisi dibawa ini.
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia
Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
Puisi Idul Fitri ini menceritakan suasana dan kegiatan apa saja yang sering di lakukan umat muslim pada saat Ramadhan tiba, berbagai macam hal-hal yang dilakukan, ketika tarjdi sudah melakukan dan menaati ajaran selama bulan Ramdhan Tardji yakin akan mustajabahnya doa-doa yang di utarakannya dan memohon kepada Allah SWT selama bulan Ramdhan. Yang terdapat pada bait puisi berikut.
Aku bilang:
Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam
Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang
Namun si bandel Tardji ini sekali merindu
Takkan pernah melupa
Takkan kulupa janji-Nya
Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta
Maka walau tak jumpa denganNya
Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
Semakin mendekatkan aku padaNya
Dan semakin dekat
semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa
Ketika malam-malam terakhir Ramdhan bulan yang mana di nantikan banyak umat muslim yang bulan penuh ampunan dan penghapus dosa-dosa kita. Seorang Tardji yang dulu pemabuk kini ia sadar dan segera bertobat untuk menjalani kehidupan yang lurus dan taat kepada Allah SWT. Tardji paham Allah SWT maha pengampun bagi hambanya yang sering berbuat dosa.
Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu
di ujung sisa usia
O usia lalai yang berkepanjangan
Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus
Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir
tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia
Maka pagi ini
Kukenakan zirah la ilaha illAllah
aku pakai sepatu sirathal mustaqim
aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id
Aku bawa masjid dalam diriku
Kuhamparkan di lapangan
Kutegakkan shalat
Dan kurayakan kelahiran kembali
di sana

Komentar
Posting Komentar