Kritik dan Esai lagu Judika Mama Papa Larang

 


Lirik lagu Mama Papa Larang 

Separuh nafasku

Ku hembuskan untuk cintaku

Biar rinduku

Sampai kepada bidadariku

Uu-uu

Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu

Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu

Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang

Walau dunia menolak, 'ku tak takut

Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu

Ohh

Karena kamu

Bintang di hatiku

Takkan ada yang lain

Mampu goyahkan rasa cintaku padamu

Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu

Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu

Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang

Walau dunia menolak, 'ku tak takut

Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu

Sudah jangan kau usik lagi

Cinta…

         Kritik dan esai pada lagu judika dengan judul “Mama Papa Larang” yaitu mengandung perjalanan cinta sesorang yang terhalang oleh restu dari orang tua, karena cintalah seseorang mau berjuang dan bersemangat untuk mendapatkan segala hal sesuatu yang di inginkan, contohnya seperti restu dari orang tua. Dalam menjalani sebuah hubungan perlunya restu dan ridho dari orang tua, apabila orang tua memberikan restu pasti hubungan kita berjalan baik. Pentingnya restu orang tua, ibu atau ayah karena ingin anaknya mendapatkan pendamping hidup yang hanya untuk sekali seumur hidup dan hanya maut memisahkan. 

   Dari lagu diatas dapat dipahami bagaimana kekuatan cinta yang menggembu untuk mendapatkan sesuatu yang sangat sulit digapai, walaupun sesulit apapun cobaan cinta tersebut tetap dilalui dan dihapadi untuk mempertahankan dan mendapatkan suatu kepercayaan dari orang tua pasangan kita. Ketika seseorang sedang jatuh cinta dan lagi difase sayang-sayangnya, pasti hubungan dilarang oleh orang tua tetap diterjang. Dan merebut dan menyakinkan hati orang tuanya untuk merestui hubungan tersebut. Itulah kehebatan dan kekuatan dari cinta. 

   Dari penulisam lirik lagu diata juga menggunakan kalimat yang efektif dan mudah dipahami apa maksud dari lagu tersebut. Yang didalamnya memiliki makna-makna yang tersirat pada lagu tersebut. Kalimat tersebut sering dijumpai dan terjadi di masyrakat sekitar. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik dan Esai “Ulama Durna Ngesot ke Istana”

Kritik dan Esai "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesi karya Taufik Ismail