Kritik dan Esai Setan Benteng
Yogyakarta, 1968
Pada jam istirahat, akan terlihat serombongan anak laki-laki membentuk kerumunan tersendiri.
“Siapa yang berani?” pemimpin rombongan itu bertanya.
Anak-anak kelas VI sekolah dasar itu hanya saling memandang, bahkan ada yang mundur seperti ada sesuatu yang mengancamnya, tetapi ada yang menjawab tantangan itu.
“Aku!”
Selalu begitu. Sejak masa kanak-kanak pun sudah terbagi: ada yang pemberani, ada yang selalu ketakutan, ada yang penuh perhitungan dan lihat-lihat dulu.
Lantas, dengan kapur putih, salah seorang dari anak-anak itu cukup menggambar di lantai, atau kalau tidak ada kapur bisa menggunakan patahan ranting, menggurat di tanah gambaran seperti ini:
“Sudah,” katanya kepada pemimpin rombongan.
Pemimpin rombongan itu menoleh ke arah anak pemberani tadi, sambil menunjuk ke arah gambar yang terbentuk di atas tanah berpasir di dekat tembok samping sekolah.
“Ayo!” katanya dengan nada perintah.
Anak yang badannya paling besar itu pun maju mendekati gambar, menekuk lutut, mengarahkan kepala ke arah gambar seperti mau bersujud. Namun anak itu tidak bersujud, ketika wajahnya mendekati gambar jari-jari tangannya membentuk lingkaran di depan kedua mata, seperti orang yang berpura-pura memegang teropong.
Dalam cerita diatas kalimatnya mudah dipahami dan dimengerti oleh pembaca, alur ceritnya yang searah dengan apa yang akan disampaikan oleh penulis cerita tersebut. Dalam cerita tersebut diceritakan tentang kehidupan anak-anak dalam lingkungan sekolah dan terbagi menjadi tiga sifat yang dimiliki anak-anak. Sedangkan sosok benteng pada cerita diatas sebagai sosok yang gagah dan pemberani dalam melakukan suatu rintangan untuk menghadapi suatu rintangan dan ujian yang akan dihadapinyaa.
Seperti pada kalimat yang terdapat pada cerita diatas.
Anak-anak kelas VI sekolah dasar itu hanya saling memandang, bahkan ada yang mundur seperti ada sesuatu yang mengancamnya, tetapi ada yang menjawab tantangan itu.
“Aku!”
Kalimat tersebut menjelaskan bahwa ketika seorang tokoh “Aku” ini memberanikan dirinya untuk menjadi pemimpin di regu untuk memandu para anggotanya, banyak anak-anak yang lain ragu dan mundur perlahan untuk menjadi pemimpin regu. Melainkan tokoh “Aku” ini sangat tegas dan berani umtuk menjadi ketua pemimpin regu disekolahnya.
Kalimat berikutnya menjelaskan bahwa setiap karakter anak memiliki ciri khas yang berbeda dan karakter yang berbeda, maka dari itu sikap anak memiliki berbagai macam seperti ada yang berani, ada yang pemalu, dan ada juga yang keras kepala. Yang terdapat pada kalimat diatas
Selalu begitu. Sejak masa kanak-kanak pun sudah terbagi: ada yang pemberani, ada yang selalu ketakutan, ada yang penuh perhitungan dan lihat-lihat dulu.
Dapat dijelaskan bahwa cerita diatas menceritakan karakter-karakter anak yang berbgai macam dan berbagai macam sifat.
Komentar
Posting Komentar